Kamis, 28 November 2013

BELANJA OLEH-OLEH DAN KULINER DI SURABAYA

Toko Oleh Oleh Sudi Mampir Surabaya
Rabu (27/11) | Karena keterbatasan waktu dan tidak ada kendaraan pribadi yang bisa dipakai ngider menikmati keindahan kota pahlawan, jadinya sebagian besar waktu luang saya habiskan di rumah. Banyak nulis nulis dan nulis. Entahlah, saya makin keranjingan menulis, he3he.

Ceritanya besok pagi saya ke Bandung, ngga mungkin dong kalau tidak bawa ‘sesuatu’ ke keluarga besar. Maka dari itu, malam ini saya bersama kedua orang tua hunting camilan dan oleh-oleh khas Jawa Timur. Bicara soal oleh-oleh, Toko Sudi Mampir di Jalan Genteng Besar solusinya! Kenapa harus Toko Sudi Mampir? Soalnya toko itu langganan turun temurun di keluarga saya, hi3hi. Stoknya lengkap, mulai dari A sampai Z, tempatnya bersih, pelayanannya ramah sampai-sampai ke mana pun saya pergi selalu dibuntuti salah seorang pegawai (nyindir nih ceritanya, diikutin melulu, emang saya mau nyolong?).
 
Stok Lengkap dan Nyaman Berbelanja

Bandeng Asap Sekilonya Dibanderol 90 Ribu Rupiah
Setelah ambil ini itu, tunjuk sana sini tanpa beban, sekarang tiba saatnya totalan. Si mbak toko dengan cepat dan cekatan menjumlah seluruh barang yang akan saya beli. Kurang dari 3 menit kemudian, ia menyodorkan secarik kertas berisi jumlah nominal yang harus dibayar di kasir. Saya terbelalak begitu lihat jumlahnya. Ya sudahlah, toh buat keluarga sendiri, ngga masalah deh.
 
Secarik Kertas Seharga Hampir Setengah Juta
Di kasir, seorang kakek keturunan tionghoa terlihat tengah berbincang-bincang dengan temannya yang asik makan soto kikil sapi (soalnya ada tukang jualanan makanan itu lagi nangkring di depan toko). “Koh, ngga dapet potongan?” tanya saya pelan, menyela perbincangan diantara mereka berdua sembari menyerahkan secarik kertas itu. Tanpa banyak bicara, uang yang saya berikan sebesar empat ratus lima puluh ribu rupiah, dikembalikannya sebesar tiga puluh ribu rupiah. “Asiiikkkk.. dapat potongan, Engkoh nya emang baik deh, mantapppp,” ujar saya dalam hati kegirangan. Inilah enaknya berhubungan dengan orang keturunan tionghoa, mereka tidak ambil untung banyak, lebih senang menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Tak apalah untung sedikit tapi pelanggan balik terus ke tempat dagangannya. Salut pokoknya.

Sehabis berbelanja, sekarang giliran urusan perut karena kami semua belum makan dari siang. Sengaja ngga masak, soalnya tahu kalau nanti malam kita makan di luar. Kemudian, mobil yang dikemudian papa melaju ke Jalan Undaan Kulon dan berhenti tepat di sebelah minimarket Alfamidi. Menu kita malam ini, soto ayam.
 
Daftar Harga Soto Ayam Hartono
Dari luar, Warung Soto Ayam Hartono tidak begitu mewah, biasa saja. Tapi, orang yang makan di sana kebanyakan bawa mobil, cuy! “Wah.. pasti enak nih makanannya,” gumam saya dalam hati dan memesan soto ayam jeroan (mumpung masih muda #modus). Soto Ayam Hartono rasanya enak, berasa bumbunya dan tidak bikin eneg (mual). Isinya juga banyak, sepadan lah dengan harga yang dipatok.

Selesai urusan perut, waktunya kita pulang. Begitu sampai rumah, saya bergegas bersih-bersih badan kemudian mengambil laptop dari dalam kamar, bikin kopi, siapin rokok, mulai menulis, jadilah artikel satu ini.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar